Custom Search

Tuesday, November 15, 2016

Loyalitas hati

Apasih loyalitas? Secara harfiah berarti kepatuhan, kesetiaan. Bagaimana perasan kalian jika ada banyak orang yang patuh dan setia kepada anda?

Andai saja saya jadi seorang raja, atau pemimpin.. Punya kekuatan yang tidak bisa dilawan siapapun, punya anak buah banyak dan jagoan semua.. betapa senang hati ini, hingga suatu saat saya di hina oleh salah satu anak buah saya, dan dia mengakuinya didepan anak buah saya yang lain. Dan dia bilang tak ada niat menghina saya. Dimana para anak buah saya tersebut ada yang loyal kepada saya ada yang kurang loyal, ada juga yang tidak loyal bahkan cenderung berkhianat.
Tentunya anak buah yang loyal akan membela saya habis habisan, karena kepatuhan dan kesetiaannya pada saya dan mereka percaya kepada saya.
Sebenarnya tanpa mereka bela pun saya bisa menyingkirkan orang yang telah menghina saya tadi, dengan kekuatan dan kemampuan yang saya miliki, dan semua anak buah saya tersebut tahu dan percaya kalau saya adalah raja, orang terkuat diantara mereka sehingga ga mungkin mereka melawan saya. Tapi dari hati saya lebih senang kalau dibela, mungkin jika anda jadi orang terkuat juga begitu.. lebih senang dibela mati matian oleh anak buah yang sangat loyal kepada kita lebih tepatnya saya karena dalam tulisan kali ini, sayalah yang jadi raja. Dan saya ga perlu menghukum penghina saya tersebut walaupun dia telah meminta maaf. Tapi saya punya aturan untuk mereka, terserah saya mau menghukum sekarang, besok atau lusa karena saya yang paling berkuasa. Tapi anak buah saya punya aturan dan hukum untuk mereka sendiri, untuk menghukum pelaku kejahatan termasuk menghina pimpinan tertinggi mereka yaitu saya. Lalu apa yang dilakukan oleh para loyalis saya, dan apa yg dilakukan para penghianat saya?
Loyalis akan menuntut hukuman atas apa yg dilakukan penghina saya. Sedangkan para penghianat akan membelanya habis habisan. Dengan alasan hasil kerjanya untuk kerajaan saya sangat bagus. Sedangkan yang dilakukan oleh anak buah saya yang kurang loyal itu hanyalah memperkeruh suasana, ke loyalis dia bilang cepat hukum si penghina itu, ke penghianat dia bilang, si pelaku ga boleh tersentuh hukum supaya dia tetap kerja kerja dan kerja.

Menurut anda pembaca, saya lebih senang pada anak buah saya yg mana?
Lalu anak buah yang mana yg harus saya muliakan?

Wahai Tuhan ku yang maha besar, maha kuasa, maha pengampun, jadikan hamba seorang yang patuh pada Mu, jadikan aku pembelaMU yang setia, dan jauhkan aku dari segala fitnah keji dan jauhkan hamba dari fitnah dajall..

Yakin dan Percaya

☝🏼 Yakin dan percaya, serta Selalu OPtimis bahwa setiap langkah  anda akan menuju ke tujuan akhir yang anda impikan

Jika kita memakai layanan Google Maps untuk mencapai sebuah lokasi,  kita cukup memasukan alamat, menentukan titik tuju, lalu G-Maps akan bekerja untuk mencari rute kw tujuan. G-Maps akan menjelaskan detail perjalanan sampai ketujuan.

G-Maps mampu menunjukan rute secara detail. G-Maps dapat menjelaskan jalan apa yang harus dilalui terlebih dahulu, lalu ke jalan apa, belok ke kiri atau ke kanan, hingga jarak tempuh setiap ruas jalan yang harus dilalui. Itulah kerja G-Maps.

Begitu juga Allah subhanahu wata'ala, Dia Maha Tahu jalan-jalan menuju apa yang kita hajatkan. Dia juga Maha Mengetahui jalan mana yang paling efektif untuk menuju impiannya. Yang berbeda adalah, sejak awal, Allah tidak menjelaskan semua jalan yang harus kita lalui. Allah hanya memberi petunjuk selangkah demi selangkah. Allah tidak menjelaskan semua jalan yang ada. Dan begitulah Allah bekerja.

Sayangnya, kita sebagai makhluk cenderung menyukai petunjuk yang detail, kita berharap agar Allah menjelaskan semua rute perjalanan menuju solusi atas masalah kita. Kita ingin diberitahu secara detail, seperti yang G-Maps lakukam kepada kita.

"Caranya gimana? Apa yang harus dilakukan? Habis ini gimana? Terus harus ngapain lagi?"

Disinilah keimanan seorang Hamba diuji. Begitulah cara Allah menuntun HambaNya. Nabi Musa tidak diberitahu hal-hal detail tentang apa yang harus ia lalui dalam perjalanannya menuju Palestina. Siti Hajar tidak memahami, bagaimana caranya agar ia dapat bertahan hidup di lembah tandus. Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwassalam pun tidak mengetahui seluruh detail perjalanan dakwah yang harus Ia lalui. Allah menuntun NabiNya setahap demi setahap.

Yang dilakukan para Nabi adalah meyakini bahwa mereka akan sampai pada tujuan yang dijanjikan Allah. Lalu para Nabi menapaki perjalanan setapak demi setapak. Para Nabi melangkah dalam keyakinan bahwa Allah mengetahui jalan-jalan yang harus ditempuh. Para Nabi meyakini bahwa Allah mampu menghantarkan menghantarkan mereka menuju apa yang memang sudah dijanjikan.

Seseorang yang sedang terlilit hutang, pasti mendambakan lunasnya hutang. Allah berjanji bahwa Allah akan melunasi hutang seorang Hamba yang terus memohon dan berusaha. Sayangnya, seluruh detail teknis dan jalan-jalan menuju lunas hutang... tidaklah terjabarkan secara detail sedari awal. Yang Allah hadirkan adalah setapak jalan demi setapak jalan. Dan disanalah hati kita diuji, apakah kita akan terus melangkah atau tidak. Apakah hati kita cukup beriman?

Allah akan hadirkan kesempatan-kesempatan kecil yang mungkin sangat jauh dari angka hutang kita. Allah mulai mempertemukan kita dengan sosok sosok yang perlahan menuntun kita pada jalan lunas hutang. Yang perlu kita lakukan hanyalah menapaki jalan yang telah dibuka oleh Allah. Menjalaninya dengan penuh keyakinan. Tanpa keraguan.

Sahabat, inilah cara kerja Allah yang harus kita fahami. Kita tidak perlu memaksa Allah untuk menjelaskan semua detail perjalanan sedari awal. Yang harus kita lakukan adalah terus memohon petunjuk, dan menjalani setiap kesempatan yang terbuka, setahap demi setahap. Dan disinilah keimanan kita diuji. Disinilah hati kita diuji. Apakah kita yakin atau tidak? Ukurannya sederhana : apakah kita melangkah atau tidak.

Sama seperti mengendarai kendaraan. Yang hanya kita lihat hanyalah 100 meter kedepan. Namun apakah kita berhenti berkendara? Tentu tidak. Kita terus melaju setahap demi setahap, dan dalam perjalanan itulah semua jalan terlihat dan tersingkap didepan mata.

Melangkahlah dalam keyakinan, walau kita tidak mengetahui bagaimana semuanya akan selesai dan tersolusikan. Melangkah dalam iman, walau kita tidak memahami bagaimana impian kita akan tercapai. Melangkahlah dalam hati yang bulat, walau kita tidak memegang rute detailnya. Melangkah saja.

Semoga tetap dalam keimanan, bahwa Allah mengetahui rute perjalanan terbaik menuju apa yang Anda impikan. Semoga tetap dalam keyakinan, bahwa Allah selalu membersamai seorang hamba yang memohon petunjuknya. Semoga

tetap dalam ketenangan, bahwa Allah menyediakan jalan berikutnya, setelah kita menjalani tahapan sebelumnya.

Tidak terlihatnya jalan, bukan berarti tidak ada jalan.